Menjelaskan Tentang Taqlid Dan Itba (Mengikuti)

Artikel ini akan menjelaskan antara taqlid dan itba, namun sebelum masuk ke pembahasan jika teman-teman berkenan silahkan untuk membaca artikel yang lainnya juga yang ada di blog ini, mudah-mudahan dapat bermanfaat dan dapat meningkatkan pengetahuan, berikut pembahasan tentang taqlid dan itba.

Yang dinamakan taqlid yaitu mengikuti ucapan orang lain serta tidak tahu dalilnya, dan yang dinamakan itba yaitu mengikuti orang lain serta tidak tahu dalilnya, apakah didalam ucapan atau tingkah atau didalam perbuatan, yang dinamakan itba itu lebih umum daripada taqkid maka setiap taqlid itu itba dan tidak setiap itba itu dinamakan taqlid, adapun yang dilarang yaitu mengikuti orang-orang kafir kepada bapak-bapaknya dalam menyembah tapekok, firman allah ta'ala:



Nah didalam ayat ini allah memerintahkan untuk mengikuti kitab yang diturunkan oleh allah kepada nabi dan melarang allah mwngikuti orang-orang kafir kepada bapak-bapaknya yang tidak ada dasarnya dari kitab allah.

Sifat ini yaitu sifat orang-orang kafir yang dilarang oleh allah, sebab mengikuti kepada bapak-bapaknya (leluhurnya) yang penuh dengan kebodohan dan kita diperintahkan oleh allah untuk mengikuti yang diwahyukan oleh allah kepada nabi atau mengikuti kepada nabi seperti dalam ayat:



Dan ayat:



ARTINYA:
Kalian harus mengikuti dengan apa yang diwahyukan kepada kalian, dan harus mengikuti kalian semua kepadaku, maka allah akan mencintai kalian semua.

Atau mengikuti ulama sebagai mana firman allah:



ARTINYA:
Jika kalian tidak mengetahui isinya quran dan hadits, maka tanyakan kepada ahlinya kemudian mengikuti ucapannya.

Atau mengikuti kepara sahabat, sebagai mana sabda nabi shalalahu alaihi wasalam:



ARTINYA:
Beberapa sahabatku itu seperti beberapa bintang, kepada siapa saja di antara sahabat kalian mengikuti maka kalian akan dapat petunjuk.

Taqlid ini didalam urusan agama yaitu urusan yang agung sehingga wajib ada syarat dan rukun nya, tidak setiap orang dapat taqlid dan tidak setiap ulama bisa di taqlidi (di ikuti), maka yang dinamakan taqlid itu harus didalam masalah furuq (cabang), maka tidak boleh taqlid di dalam masalah usul atau tauhid, dan bolehnya taqlid kepada orang yang tidak sampai derazat mudztahid mutlak, maka mudztahid mutlak itu tidak boleh taqlid ke mudztahid lagi, sebagai mana perkataan imam hambali:



ARTINYA:
Jangan taqlid kalian kepadaku dan jangan taqlid kepada imam malik dan jangan taqlid kepada imam supyan saori.

Nah ini perkataan imam hambali itu ditujukan kepada orang-orang yang sudah sampai kepada pangkat mudztahid mutlak, yaitu para ulama mudztahid tidak boleh mengikuti aku, maka silahkan saja istihad (pendapat) sendiri.

Jadi bukan ditujukan kepada orang yang bodoh dalam ilmunya harus idztihad seperti ada orang yang memaksakan diri ingin idztihad dan menyuruh idztihad kepada orang lain untuk idztihad, bagai mana mereka mau mengerti.

Kata mereka dilarang taqlid oleh imam hambali, tetapi itu adalah sebuah kebodohan sebab jika imam hanbali melarang untuk apa imam hanbali membukukan kepada qaul-qaulnya dari isi al-quran dan hadits kalau bukan untuk di ikuti.

Maaf istihad itu bukan sekedar



ARTINYA:
Yaitu sekedar mengarahkan sebisanya kan istihad itu urusan agama yang sangat agung, maka pasti harus ada syarat dan rukunnya sebab segalanya tanpa syarat dan rukunnya itu tidak akan jadi.

Apalagi didalam urusan idztihad, imam ghazali juga yang pangkatnya hujatul islam yang sudah hafal 300 ribu hadits dan jadi mudztahid madzhab yang sudah banyak karangannya, itu taqlid kepada imam syafi'i.

Atau seperti imam bukhari yang menjadi imam muhaditsin dan kitabnya jadi ashohul kutub ba'dal quran itu juga taqlid nya kepada imam syafi'i.

Dan perkataan imam syafi'i:



ARTINYA:
Bahwa itu bukan madzhab syafi'i hadits shahih.

Nah ini perkataan imam syafi'i itu juga bukan ditujukan untuk orang bodoh, tapi ditujukan kepada para ulama mudztahid tarzih, yang mampu membandingkan beberapa qaulnya dan hadits dan quran, yaitu jika ada perkataan imam syafi'i antara qaul jadid dan qaul qodim maka dalilnya dari hadits yang shahih itu madzhabku, yaitu sama dengan keterangan:



ARTINYA:
Qaul qodim itu bukan madzhab syafi'i, selagi belum narjih (menjelaskan) para ulama musztahid tarjih atas qaul itu, maka jika ada qaul qodim kemudian haditsnya shahih maka itu tetap madzhab syafi'i.

Nah kita harus mengikuti kepada para ulama mudztahid mutlaq yang mudawan seperti madzhab yang empat yang sudah di akui kebesaran ilmunya sehingga tidak ada yang berani membatalkan perkataannya.

Untuk penjelasan tentang perbedaan taqlid dan itba saya cukupkan sampai disini, janganlupa untuk mensubscribe blog ini ya untuk mendapatkan info terbaru dari kami seputar agama islam, jika ada yang ingin bertanya silahkan kirimkan melalui email yang telah tersedia di menu kontak.

Share on Facebook
Share on Twitter
Tags :

Related : Menjelaskan Tentang Taqlid Dan Itba (Mengikuti)